Category Archives: MENGENAL ILMU HADITS!

MENGENAL ILMU HADITS!

DEFINISI MUSTHOLA’AH HADITS!

.

Hadits ialah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Rasulullah Saw baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataan, taqrir, dan sebagainya.

Atsar ialah sesuatu yang disandarkan kepada para sahabat Nabi Muhammad Saw.

Taqrir ialah keadaan Nabi Muhammad SAW yang mendiamkan, tidak mengadakan sanggahan atau menyetujui apa yang telah dilakukan atau diperkatakan oleh para shahabat di hadapan beliau.

Shahabat ialah orang yang bertemu Rasulullah SAW dengan pertemuan yang wajar sewaktu Beliau Saw masih hidup, didalam keadaan Islam lagi beriman dan mati didalam keadaan Islam.

Tabi’in ialah orang yang menjumpai shahabat, baik perjumpaan itu lama atau sebentar, dan dodalam keadaan beriman dan islam, dan mati dalam keadaan islam.

Matan ialah lafadz hadits yang diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW, atau disebut juga isi hadits.

.

.

UNSUR-UNSUR YANG HARUS ADA DIDALAM MENERIMA HADITS!

.

Rawi, yaitu orang yang menyampaikan atau menuliskan hadits dalam suatu kitab apa-apa yang pernah didengar dan diterimanya dari seseorang atau gurunya. Perbuatannya menyampaikan hadits tersebut dinamakan merawi atau meriwayatkan hadits dan orangnya disebut perawi hadits.

.

.

SISTEM PENYUSUNAN HADITS DIDALAM MENYEBUTKAN NAMA RAWI!

.

  1. As Sab’ah berarti diriwayatkan oleh tujuh perawi, yaitu:
    1. Ahmad
    2. Bukhari
    3. Turmudzi
    4. Nasa’i
    5. Muslim
    6. Abu Dawud
    7. Ibnu Majah

  2. As Sittah berarti diriwayatkan oleh enam perawi yaitu: Semua nama yang tersebut diatas (As Sab’ah) selain Ahmad

  3. Al Khomsah berarti diriwayatkan oleh lima perawi yaitu: Semua nama yang tersebut diatas (As Sab’ah) selain Bukhari dan Muslim

  4. Al Arba’ah berarti diriwayatkan oleh empat perawi yaitu: Semua nama yang tersebut diatas (As Sab’a) selain Ahmad, Bukhari dan Muslim.

  5. Ats Tsalasah berarti diriwayatkan oleh tiga perawi yaitu: Semua nama yang tersebut diatas (As Sab’ah) selain Ahmad, Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah.

  6. Asy Syaikhon berarti diriwayatkan oleh dua orang perawi yaitu: Bukhari dan Muslim

  7. Al Jama’ah berarti diriwayatkan oleh para perawi yang banyak sekali jumlahnya (lebih dari tujuh perawi / As Sab’ah).

Matnu’l Hadits adalah pembicaraan (kalam) atau materi berita yang berakhir pada sanad yang terakhir. Baik pembicaraan itu sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, shahabat ataupun tabi’in. Baik isi pembicaraan itu tentang perbuatan Nabi, maupun perbuatan sahabat yang tidak disanggah oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Sanad atau Thariq adalah jalan yang dapat menghubungkan matnu’l hadits kepada Nabi Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

.

GAMBARAN SANAD!

.

Untuk memahami pengertian sanad, dapat digambarkan sebagai berikut: Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam didengar oleh shahabat (seorang atau lebih). Shahabat ini (seorang atau lebih) menyampaikan kepada tabi’in (seorang atau lebih), kemudian tabi’in menyampaikan pula kepada orang-orang dibawah generasi mereka. Demikian seterusnya hingga dicatat oleh imam-imam ahli hadits seperti Muslim; Bukhari; Abu Dawud; dll.

Contoh:
Waktu meriwayatkan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Bukhari berkata hadits ini diucapkan kepada saya oleh A, dan A berkata diucapkan kepada saya oleh B, dan B berkata diucapkan kepada saya oleh C, dan C berkata diucapkan kepada saya oleh D, dan D berkata diucapkan kepada saya oleh Nabi Muhammad.

.

.

AWAL SANAD AND AKHIR SANAD!

.

Menurut istilah ahli hadits, sanad itu ada permulaannya (awal) dan ada kesudahannya (akhir). Seperti contoh diatas yang disebut awal sanad adalah A dan akhir sanad adalah D.

Klasifikasi Hadits!

Klasifikasi hadits menurut dapat (diterima) atau ditolaknya hadits sebagai hujjah (dasar hukum) adalah:

  1. Hadits Shohih, adalah hadits yang  diriwayatkan oleh rawi yang ‘adil, sempurna ingatan (bukanlah seorang yang mudah lupa), sanadnya bersambung, tidak berillat dan tidak janggal. Illat hadits yang dimaksud adalah suatu penyakit yang samar-samar yang dapat menodai keshohihan suatu hadits.

  2. Hadits Makbul adalah hadits-hadits yang mempunyai sifat-sifat yang dapat diterima sebagai Hujjah. Yang termasuk hadits makbul adalah Hadits Shahih dan Hadits Hasan.

  3. Hadits Hasan adalah hadits yang diriwayatkan oleh Rawi yang ‘adil, tapi tidak begitu kuat ingatannya (hafalan), bersambung sanadnya, dan tidak terdapat illat serta kejanggalan pada matannya. Hadits Hasan termasuk hadits yang Makbul, biasanya dibuat hujjah buat sesuatu hal yang tidak terlalu berat atau terlalu penting.

  4. Hadits Dhoif adalah hadits yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadits shohih atau hadits hasan. Hadits Dhoif banyak macam ragamnya dan mempunyai perbedaan derajat satu sama lain, disebabkan banyak atau sedikitnya syarat-syarat hadits shohih atau hasan yang tidak dipenuhinya.

.

.

SYARAT-SYARAT  HADITS SHOHIH!

.

Suatu hadits dapat dinilai shohih (shahih) apabila telah memenuhi kelima Syarat:

  • Rawinya bersifat ‘Adil

  • Sempurna ingatan

  • Sanadnya tidak terputus

  • Hadits itu tidak berillat dan

  • Hadits itu tidak janggal.

Arti ‘Adil dalam periwayatan, seorang rawi harus memenuhi keempat syarat untuk dinilai ‘adil, yaitu:

  • Selalu memelihara perbuatan taat dan menjahui perbuatan maksiat.

  • Menjauhi dosa-dosa kecil yang dapat menodai agama dan sopan santun.

  • Tidak melakukan perkara-perkara Mubah yang dapat menggugurkan iman kepada kadar dan mengakibatkan penyesalan.

  • Tidak mengikuti pendapat salah satu madzhab yang bertentangan dengan dasar Syara’.

Klasifikasi Hadits Dhoif berdasarkan kecacatan perawinya

  • Hadits Maudhu': adalah hadits yang diciptakan oleh seorang pendusta yang ciptaan itu mereka katakan bahwa itu adalah sabda Nabi Muhammad Rasulullah Saw, baik hal itu disengaja maupun tidak disengaja.

  • Hadits Matruk: adalah hadits yang menyendiri dalam periwayatan, yang diriwayatkan oleh orang yang dituduh dusta dalam perhaditsan.

  • Hadits Munkar: adalah hadits yang menyendiri dalam periwayatan, yang diriwayatkan oleh orang yang banyak kesalahannya, banyak kelengahannya atau jelas kefasiqannya yang bukan karena dusta. Di dalam satu jurusan jika ada hadits yang diriwayatkan oleh dua hadits lemah yang berlawanan, misal yang satu lemah sanadnya, sedang yang satunya lagi lebih lemah sanadnya, maka yang lemah sanadnya dinamakan hadits Ma’ruf dan yang lebih lemah dinamakan hadits Munkar.

  • Hadits Mu’allal (Ma’lul, Mu’all): adalah hadits yang tampaknya baik, namun setelah diadakan suatu penelitian dan penyelidikan ternyata ada cacatnya. Hal ini terjadi karena salah sangka dari rawinya dengan menganggap bahwa sanadnya bersambung, padahal tidak. Hal ini hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang ahli hadits (para ‘ulama Muslim yang sudah memiliki keahlian dan sudah menjadi pakarnya didalam bidang perhaditsan).

  • Hadits Mudraj (saduran): adalah hadits yang disadur dengan sesuatu yang bukan hadits atas perkiraan bahwa saduran itu termasuk hadits.

  • Hadits Maqlub: adalah hadits yang terjadi mukhalafah (menyalahi hadits lain), disebabkan mendahului atau mengakhirkan.

  • Hadits Mudltharrib: adalah hadits yang menyalahi dengan hadits lain terjadi dengan pergantian pada satu segi yang saling dapat bertahan, dengan tidak ada yang dapat ditarjihkan (dikumpulkan).

  • Hadits Muharraf: adalah hadits yang menyalahi hadits lain terjadi disebabkan karena perubahan Syakal kata, dengan masih tetapnya bentuk tulisannya.

  • Hadits Mushahhaf: adalah hadits yang mukhalafahnya karena perubahan titik kata, sedang bentuk tulisannya tidak berubah.

  • Hadits Mubham: adalah hadits yang didalam matan atau sanadnya terdapat seorang rawi yang tidak dijelaskan apakah ia laki-laki atau perempuan.

  • Hadits Syadz (kejanggalan): adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang yang makbul (tsiqah) menyalahi riwayat yang lebih rajih, lantaran mempunyai kelebihan kedlabithan atau banyaknya sanad atau lain sebagainya, dari segi pentarjihan.

  • Hadits Mukhtalith: adalah hadits yang rawinya buruk hafalannya, disebabkan sudah lanjut usia, tertimpa bahaya, terbakar atau hilang kitab-kitabnya.

Klasifikasi hadits Dho’if berdasarkan gugurnya rawi

  • Hadits Muallaq: adalah hadits yang gugur (inqitha’) rawinya seorang atau lebih dari awal sanad.

  • Hadits Mursal: adalah hadits yang gugur dari akhir sanadnya, seseorang setelah tabi’in.

  • Hadits Mudallas: adalah hadits yang diriwayatkan menurut cara yang diperkirakan, bahwa hadits itu tiada bernoda. Rawi yang berbuat demikian disebut Mudallis.

  • Hadits Munqathi': adalah hadits yang gugur rawinya sebelum shahabat, disatu tempat, atau gugur dua orang pada dua tempat dalam keadaan tidak berturut-turut.

  • Hadits Mu’dlal: adalah hadits yang gugur rawi-rawinya, dua orang atau lebih berturut turut, baik shahabat Rasulullah Saw bersama tabi’in, tabi’in bersama tabi’it tabi’in, maupun dua orang sebelum shahabat dan tabi’in.

Klasifikasi hadits Dho’if berdasarkan sifat matannya

  • Hadits Mauquf: adalah hadits yang hanya disandarkan kepada shahabat saja, baik yang disandarkan itu perkataan atau perbuatan dan baik sanadnya bersambung atau terputus.

  • Hadits Maqthu': adalah perkataan atau perbuatan yang berasal dari seorang tabi’in serta dimauqufkan padanya, baik sanadnya bersambung ataupun tidak bersambung.

.

APAKAH BOLEH BERHUJJAH DENGAN HADITS DHO’IF?…

.

Para ‘ulama Muslim telah sepakat melarang meriwayatkan hadits dho’if yang maudhu’ tanpa menyebutkan kemaudhu’annya. Adapun kalau hadits dho’if itu bukan hadits maudhu’ maka diperselisihkan tentang boleh atau tidaknya diriwayatkan untuk berhujjah. Berikut ini pendapat yang ada yaitu:

Pendapat Pertama Melarang secara mutlak meriwayatkan segala macam hadits dho’if, baik untuk menetapkan hukum, maupun untuk memberi sugesti amalan utama. Pendapat ini dipertahankan oleh Abu Bakar Ibnul ‘Araby.

Pendapat Kedua Membolehkan, kendatipun dengan melepas sanadnya dan tanpa menerangkan sebab-sebab kelemahannya, untuk memberi sugesti, menerangkan keutamaan amal (fadla’ilul a’mal  dan cerita-cerita, bukan untuk menetapkan hukum-hukum syari’at Islam, seperti halal and haram, dan bukan untuk menetapkan ‘aqidah-‘aqidah).

Para imam seperti Ahmad bin Hambal, Abdullah bin Al-Mubarak berkata: “Apabila kami meriwayatkan hadits tentang halal, haram dan hukum-hukum syari’at Islam, kami perkeras sanadnya dan kami kritik rawi-rawinya. Tetapi bila kami meriwayatkan tentang keutamaan, pahala dan azab Allah, maka kami permudah dan kami perlunak rawi-rawinya!“.

Karena itu, Ibnu Hajar Al-Asqalany termasuk ahli hadits yang membolehkan berhujjah dengan hadits dho’if untuk fadla’ilul amal. Ia memberikan 3 syarat dalam hal meriwayatkan hadits dho’if, yaitu:

  1. Hadits dho’if itu tidak keterlaluan. Oleh karena itu, untuk hadits-hadits dho’if yang disebabkan rawinya pendusta, tertuduh dusta, dan banyak salah, tidak dapat dibuat hujjah kendatipun untuk fadla’ilul amal.

  2. Dasar amal yang ditunjuk oleh hadits dho’if tersebut, masih dibawah satu dasar yang dibenarkan oleh hadits yang dapat diamalkan (shahih dan hasan).

  3. Dalam mengamalkannya tidak mengitikadkan atau menekankan bahwa hadits tersebut benar-benar bersumber kepada nabi, tetapi tujuan mengamalkannya hanya semata mata untuk ikhtiyath (hati-hati) belaka.

.

.

KLASIFIKASI HADITS DARI SEGI SEDIKIT ATAU BANYAKNYA RAWI:

.

[1] Hadits Mutawatir: adalah suatu hadits hasil tanggapan dari panca indra, yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi, yang menurut adat kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat dusta.

Syarat syarat hadits mutawatir

  1. Pewartaan yang disampaikan oleh rawi-rawi tersebut harus berdasarkan tanggapan panca indra. Yakni warta yang mereka sampaikan itu harus benar-benar hasil pendengaran atau penglihatan mereka sendiri.

  2. Jumlah rawi-rawinya harus mencapai satu ketentuan yang tidak memungkinkan mereka bersepakat bohong/dusta.

  3. Adanya keseimbangan jumlah antara rawi-rawi didalam lapisan pertama dengan jumlah rawi-rawi pada lapisan berikutnya. Kalau suatu hadits diriwayatkan oleh 5 shahabat maka harus pula diriwayatkan oleh 5 tabi’in demikian seterusnya, bila tidak maka tidak bisa dinamakan hadits mutawatir.

[2] Hadits Ahad: adalah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits mutawatir.

Klasifikasi hadits Ahad

  1. Hadits Masyhur: adalah hadits yang diriwayatkan oleh 3 orang rawi atau lebih, serta belum mencapai derajat mutawatir.

  2. Hadits ‘Aziz: adalah hadits yang diriwayatkan oleh 2 orang rawi, walaupun 2 orang rawi tersebut pada satu thabaqah (lapisan) saja, kemudian setelah itu orang-orang meriwayatkannya.

  3. Hadits Gharib: adalah hadits yang dalam sanadnya terdapat seorang yang menyendiri dalam meriwayatkan, dimana saja penyendirian dalam sanad itu terjadi.

.

.

HADITS QUDSI ATAU HADITS RABBANI ATAU HADITS ILAHI!

.

Adalah sesuatu yang dikabarkan oleh Allah kepada nabi-Nya dengan melalui ilham atau impian, yang kemudian nabi Muhammad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa alihi wassallam menyampaikan makna dari ilham atau impian tersebut dengan ungkapan kata Beliau Saw sendiri.

Perbedaan Hadits Qudsi dengan hadits Nabawi

Pada hadits qudsi biasanya diberi ciri ciri dengan dibubuhi kalimat-kalimat:

  • Qala ( yaqalu ) Allahu

  • Fima yarwihi ‘anillahi Tabaraka wa Ta’ala

  • Lafadz lafadz lain yang semakna dengan apa yang tersebut diatas.

Perbedaan Hadits Qudsi dengan Al-Qur’an:

  • Semua lafadz-lafadz Alqur’an adalah mukjizat dan mutawatir, sedangkan hadits qudsi tidaklah demikian.

  • Ketentuan hukum yang berlaku bagi Al-Qur’an, tidak berlaku pada hadits qudsi. Seperti larangan menyentuh, membaca pada orang yang berhadats, dll.

  • Setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur’an memberikan hak pahala kepada pembacanya.

  • Meriwayatkan Al-Qur’an tidak boleh dengan maknanya saja atau mengganti lafadz sinonimnya, sedangkan hadits qudsi tidak demikian.

.

.

BID’AH!

.

Yang dimaksud dengan bid’ah ialah sesuatu bentuk ibadah yang dikategorikan didalam menyembah Allah yang Allah sendiri tidak memerintahkannya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  tidak mencontohkannya, serta para shahabat-shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  tidak mencontohkannya.

Kewajiban sebagai seorang muslim adalah mengingatkan amar ma’ruf nahi munkar kepada saudara-saudara seiman yang masih sering mengamalkan amalan-amalan ataupun cara-cara bid’ah.

Allah Azza Wajjalla berfirman, didalam Qs Al-Maidah ayat 3, “Pada hari ini telah Aku (Allah) sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku-ridhoi Islam itu menjadi agama bagimu.” Jadi tidak ada satu halpun yang luput dari penyampaian risalah oleh Rasulullah Saw. Sehingga jika terdapat hal-hal baru yang berhubungan dengan ibadah, maka itu adalah bid’ah.

“Kulu bid’ah dholalah…” semua bid’ah adalah sesat (dalam masalah ibadah). “Wa dholalatin fin Naar…” dan setiap kesesatan itu adanya didalam api neraka.

Beberapa hal seperti speaker, naik pesawat, naik mobil, pakai pasta gigi, tidak dapat dikategorikan sebagai bid’ah. Semua hal ini tidak dapat dikategorikan sebagai bentuk ibadah yang menyembah Allah. Ada tata cara didalam beribadah yang wajib dipenuhi, misalnya dalam hal sembahyang ada ruku’, sujud, pembacaan Al-Fatihah, tahiyat, dst. Ini semua adalah wajib dan siapa pun yang menciptakan cara baru dalam sembahyang (sholat), maka itu adalah bid’ah. Ada tata cara didalam ibadah yang dapat kita ambil hikmahnya. Seperti pada zaman Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menggunakan siwak, maka sekarang menggunakan sikat gigi dan pasta gigi, terkecuali beberapa muslim di Arab, India, dst.

Menemukan hal baru didalam ilmu pengetahuan bukanlah bid’ah, bahkan dapat menjadi ladang amal bagi ummat muslim. Banyak muncul hadits-hadits yang bermuara (matannya) kepada hal bid’ah. Dan ini sangat sulit sekali untuk diingatkan kepada para pengamal bid’ah (ahlul bid’ah).

.

APA YANG MENYEBABKAN TIMBULNYA HADITS-HADITS PALSU?…

.

Didalam Kitab Khulaashah Ilmil Hadits dijelaskan bahwa kabar yang datang pada Hadits ada tiga macam:

  1. Yang wajib dibenarkan (diterima).

  2. Yang wajib ditolak (didustakan, tidak boleh diterima) yaitu Hadits yang diadakan orang mengatasnamakan Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

  3. Yang wajib ditangguhkan (tidak boleh diamalkan) dulu sampai jelas penelitian tentang kebenarannya, karena ada dua kemungkinan. Boleh jadi itu adalah ucapan Nabi dan boleh jadi pula itu bukan ucapan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam (dipalsukan atas nama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam).

Untuk mengetahui apakah Hadits itu palsu atau tidak, ada beberapa cara, diantaranya:

  1. Atas pengakuan orang yang memalsukannya. Misalnya Imam Bukhari pernah meriwayatkan dalam Kitab Taarikhut Ausath dari ‘Umar bin Shub-bin bin ‘Imran At-Tamiimy sesungguhnya dia pernah berkata, artinya: Aku pernah palsukan khutbah Rosululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Maisaroh bin Abdir Rabbik Al-Farisy pernah mengakui bahwasanya dia sendiri telah memalsukan Hadits-hadits yang berhubungan dengan Fadhilah Qur’an (Keutamaan Al-Qur’an) lebih dari 70 hadits, yang sekarang banyak diamalkan oleh para ahlul-ahlul Bid’ah. Menurut pengakuan Abu ‘Ishmah Nuh bin Abi Maryam bahwa dia pernah memalsukan dari Ibnu Abbas beberapa Hadits yang hubungannya dengan Fadhilah Qur’an satu Surah demi Surah. (Kitab Al-Baa’itsul Hatsiits).

  2. Dengan memperhatikan dan mempelajari tanda-tanda/qorinah yang lain yang dapat menunjukkan bahwa Hadits itu adalah Palsu. Misalnya dengan melihat dan memperhatikan keadaan dan sifat perawi yang meriwayatkan Hadits itu.

  3. Terdapat ketidaksesuaian makna dari matan (isi cerita) hadits tersebut dengan Al-Qur’an. Hadits tidak pernah bertentangan dengan apa yang ada didalam ayaah-ayaah Alqur’an.

  4. Terdapat kekacauan atau terasa berat didalam susunannya, baik lafadznya ataupun ditinjau dari susunan bahasa dan Nahwunya (grammarnya).

Sebab-sebab terjadi atas timbulnya Hadits-hadits Palsu

  • Adanya kesengajaan dari pihak lain untuk merusak ajaran Islam. Misalnya dari kaum Orientalis Barat yang sengaja mempelajari Islam untuk tujuan menghancurkan Islam (seperti Snouck Hurgronje).

  • Untuk menguatkan pendirian atau madzhab suatu golongan tertentu. Umumnya dari golongan Syi’ah, golongan Tareqat, golongan Sufi, para Ahlul Bid’ah, orang-orang Zindiq, orang yang menamakan diri mereka Zuhud, golongan Karaamiyah, para Ahli Cerita, dan lain-lain. Semua yang tersebut ini membolehkan untuk meriwayatkan atau mengadakan Hadits-hadits Palsu yang ada hubungannya dengan semua amalan-amalan yang mereka kerjakan. Yang disebut ‘Targhiib’ atau sebagai suatu ancaman yang terkenal dengan nama ‘At-Tarhiib’.

  • Untuk mendekatkan diri kepada Sultan, Raja, Penguasa, Presiden, dan lain-lainnya dengan tujuan mencari kedudukan.

  • Untuk mencari penghidupan dunia (menjadi mata pencaharian dengan menjual hadits-hadits Palsu).

  • Untuk menarik perhatian orang sebagaimana yang telah dilakukan oleh para ahli dongeng dan tukang cerita, juru khutbah, dan lain-lainnya.

.

.

HUKUM MERIWAYATKAN HADITS-HADITS PALSU!

.

  • Secara Muthlaq, meriwayatkan hadits-hadits palsu itu hukumnya haram bagi mereka yang sudah jelas mengetahui bahwa hadits itu palsu.

  • Bagi mereka yang meriwayatkan dengan tujuan memberi tahu kepada orang bahwa hadits ini adalah palsu (menerangkan kepada mereka sesudah meriwayatkan atau mebacakannya) maka tidak ada dosa atasnya.

  • Mereka yang tidak tahu sama sekali kemudian meriwayatkannya atau mereka mengamalkan makna hadits tersebut karena tidak tahu, maka tidak ada dosa atasnya. Akan tetapi sesudah mendapatkan penjelasan bahwa riwayat atau hadits yang dia ceritakan atau amalkan itu adalah hadits palsu, maka hendaklah segera dia tinggalkannya, kalau tetap dia amalkan sedangkan dari jalan atau sanad lain tidak ada sama sekali, maka hukumnya tidak boleh (berdosa – dari Kitab Minhatul Mughiits).

(Sumber Rujukan: Kitab Hadits Dha’if dan Maudhu’ – Muhammad Nashruddin Al-Albany;  Kitab Hadits Maudhu –  Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah; Kitab Mengenal Hadits Maudhu – Muhammad bin Ali Asy-Syaukaaniy; Kitab Kalimat-kalimat Thoyiib – Ibnu Taimiyah (tahqiq oleh Muhammad Nashruddin Al-Albany);  Kitab Mushtholahul Hadits –  A. Hassan).

.